Identifikasi Sampah di Desa Adat Tenganan Pegringsingan

Identifikasi Sampah di Desa Adat Tenganan Pegringsingan

Jumat pagi, 13 Agustus 2021 di parkir timur Tenganan.

Ketika kami datang sekitar jam 07.40, kegiatan sudah dimulai. Ada sekitar 30 anak muda Tenganan yang berkumpul bersama PPLH Bali. Bukan hanya anak muda Desa Adat Tenganan Pegringsingan (Banjar Kauh, Tengah, dan Kangin) melainkan juga dari Seked dan Abianbada. Mereka ditemani oleh perwakilan dari Kelian Desa Adat dan Kelian Dinas.

Pagi itu mereka melakukan WABA, Waste Analysis Brand Audit dilakukan untuk mengetahui produk terbanyak yang digunakan atau dikonsumsi oleh masyarakat Desa Tenganan. Ada sekitar 50 kampil sampah anorganik yang terkumpul. Sampah dikumpulkan selama delapan hari dari 100 rumah tangga, sekitar 30% dari total rumah tangga yang ada di Desa Tenganan. Sebanyak 60 rumah tangga adalah yang ada di dalam desa dan 40 rumah tangga tersebar di kebun. 

Sebelumnya sudah dilakukan kegiatan pengumpulan data untuk menyusun profil desa serta mengukur kesadaran/kepedulian dan praktik pengelolaan sampah yang sudah dilakukan. Brand audit sendiri dilakukan bersamaan dengan studi karakteristik sampah. Nantinya, dari seluruh data yang sudah terkumpul dan dianalisis, akan digunakan untuk menyusun desain sistem pengelolaan sampah desa. 

Minggu, 26 September 2021 di Wantilan Desa Tenganan.

Kegiatan Identifikasi Sampah merupakan bagian dari Program Pengelolaan Areal Konservasi menuju Kemandirian Desa. Selain di Tenganan Pegringsingan, program juga akan dilakukan di Banjar Dukuh Sibetan. Program ditujukan untuk menjadikan areal konservasi wilayah Tenganan Pegringsingan dan Dukuh Sibetan sebagai kawasan kelola produktif masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan serta berfungsi sebagai ruang belajar.

Hasil identifikasi sampah dan hasil kajiannya kemudian dipaparkan pada tanggal 26 September 2021 di Wantilan Desa Tenganan. Jumlah sampah yang dihasilkan oleh setiap keluarga berkisar 1- 5 kg dan biasanya sampah yang dihasilkan dibuang di pagi hari. Jenis sampah terbanyak yang dihasilkan adalah plastik, dedaunan sisa upacara, dan sisa makanan. Sebagian besar sampah organik lunak dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sampah anorganik masih dibuang sembarangan, ada yang dibuang ke kebun, sungai, atau lahan kosong dan dibakar. 

Hal tersebut salah satunya dikarenakan fasilitas dan infrastruktur pengelolaan sampah masih sangat kurang. Maka kemudian, para responden berharap agar desa memiliki tempat pengelolaan sampah dengan tenaga pengelolanya. Selain itu, berdasarkan hasil brand audit, diketahui bahwa dari 100 responden warga Tenganan, sampah terbanyak yang dihasilkan adalah kemasan dari PT Wings Indonesia, Danone, dan PT Unilever, terutama untuk produk makanan dan kebersihan. 

Berdasarkan hal tersebut, kesimpulan dan rekomendasi yang dapat diberikan untuk Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah:

  1. Pengelolaan sampah terkait kesadaran, persepsi dan partisipasi perlu ditingkatkan
  2. Timbulan sampah yang dihasilkan oleh warga diperkirakan sebanyak 657 kg/orang/tahun
  3. Jenis produk yang dihasilkan didominasi oleh Produk dari PT Wings Indonesia
  4. Perlu mengeluarkan peraturan kebijakan pengelolaan sampah, Bank sampah, fasilitas dan infrastruktur
  5. Perilaku pengelolaan sampah keluarga masih sangat dominan, yaitu kumpul, buang ke kebun, pinggir sungai, hutan, dibakar dan ditimbun.
  6. Titik lokasi sampah liar ditemukan sebanyak 13 titik, banyak di lokasi bantaran sungai dan hutan penting

Leave a Reply

Your email address will not be published.