Memuliakan Kembali Alas Mertajati Tamblingan: Pengembangan Hutan Adat Dalem Tamblingan Catur Desa Buleleng – Bali sebagai Pusat Belajar Hutan Lestari Berbasis Tradisi

Masyarakat Adat Dalem Tamblingan saat ini tersebar di empat desa, yaitu Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umajero (Catur Desa). Berdasarkan catatan sejarah, Gobleg merupakan desa induk dari tiga desa lainnya, yaitu Munduk, Gesing, dan Umajero. Warga Gobleg diyakini sebagai turunan kraman Dalem Tamblingan yang mengungsi dari Gunung Lesung di selatan danau Tamblingan pada abad ke-10, disebut Indu Gobed. Sejalan dengan berpencarnya warga ke tiga wilayah lainnya, sebutan Indu Gobed tidak dipergunakan lagi. Pimpinan tertinggi Catur Desa ini berada di tangan Pengrajeg, sang pamucuk adat yang diyakini sebagai turunan Ida Dalem Tamblingan atau Ida Dalem Bahem sebagai penguasa I Kraman Tamblingan. Maka, saat ini Krama Adat Dalem Tamblingan mencakup masyarakat keempat desa tersebut.

Hutan di sekitar danau Tamblingan, oleh masyarakat Adat Dalem Tamblingan diberi nama Alas Mertajati, sumber kehidupan yang sesungguhnya. Hutan adalah penangkap air, air dari hutan ini kemudian mengalir ke tanah-tanah pertanian dan perkebunan di bawahnya. Masyarakat Adat Dalem Tamblingan adalah masyarakat yang memuliakan air. Ritual-ritual mereka selalu disebut sebagai piagem gama tirta. Di kawasan hutan itu pun bertebaran pura-pura atau pelinggih-pelinggih yang semua saling terkait. Ada 17 pura di kawasan itu.

Sasaran utama program adalah masyarakat Adat Dalem Tamblingan, terutama para jaga wana dan jaga teleng (para penjaga hutan secara adat), kelompok ibu dan perempuan muda, generasi muda Adat Dalem Tamblingan, dan siswa sekolah dasar. Secara umum, permasalahan yang dihadapi kawasan dan masyarakat Adat Dalem Tamblingan adalah hutan Adat Dalem Tamblingan sebagai sumber kehidupan mengalami degradasi, banyak pohon langka dan pohon besar yang hilang sehingga kerapatan hutan semakin berkurang, namun belum ada data akurat atas hal tersebut. Fungsi kontrol atas hutan oleh masyarakat sangat lemah karena saat ini dikelola oleh BKSDA, padahal masyarakat ADT memiliki menega, mekanisme pemeliharaan hutan (jaga wana) dan danau (jaga teleng).

Program yang didanai oleh DGM Indonesia terdapat dua hasil (outcomes) yang diharapkan dengan keluarannya dari proyek ini, yaitu:

  1. Masyarakat ADT mendapatkan pengakuan hak pengelolaan hutan adat sebagai salah satu skema perhutanan sosial

Keluaran:

  • Tersedianya data spasial dan sosial budaya Adat Dalem Tamblingan dalam bentuk pangkalan data
  • Tersedianya peta dan profil Adat Dalem Tamblingan
  • Adanya kelengkapan syarat pengakuan hak pengelolaan hutan Adat Dalem Tamblingan
  • Dilakukannya proses pengajuan permohonan penetapan kawasan hutan Adat Dalem Tamblingan kepada Menteri LHK
  • Adanya dokumen rencana pengelolaan dan naskah kesepakatan kerja sama

02. Kawasan Adat Dalem Tamblingan siap dikembangkan sebagai pusat belajar hutan lestari berbasis tradisi

Keluaran:

  • Adanya model ruang hutan lestari berbasis tradisi
  • Adanya lembaga pengelola pusat belajar hutan lestari wilayah adat Dalem Tamblingan
  • Adanya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan teknis pengelolaan pusat belajar hutan lestari
  • Tersedianya media informasi pusat belajar hutan lestari sebagai media promosi dan pemasaran
  • Tersebarluaskannya informasi pusat belajar hutan lestari Adat Dalem Tamblingan

Durasi program Juni 2019 – September 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.