Mengikat Serat-serat Kehidupan: Riset dan Pendokumentasian Tenun Ikat sebagai Upaya Mengembalikan Pola Sandang Bali Tua

Pola produksi dan konsumsi terkait erat dengan pangan dan sandang yang merupakan dua dari tiga kebutuhan pokok manusia. Pola produksi dan konsumsi pangan dan sandang sangat bergantung pada keadaan lingkungan, juga kondisi sosial dan budaya masyarakat. Pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang secara berdaulat dan tidak bergantung pada pihak luar merupakan salah satu indikator kemandirian desa.

Terkait dengan pola produksi dan konsumsi sandang, khususnya yang berupa kain tenun, berkembang di desa-desa tua, seperti desa Tenganan Pegringsingan, Sidemen, dan Tanglad. Tenun tradisional yang dikembangkan di tiga desa tua ini merupakan jenis ikat yang berfungsi sebagai kain bebali, yaitu kain yang digunakan untuk kebutuhan ritual/upacara. Bahan dasar dan pewarnanya memanfaatkan aneka jenis tanaman lokal, seperti juwet dan mengkudu.

Tenun ikat sendiri bukan sekedar sebuah produk dan bukan sekedar selembar kain. Tenun merupakan proses karya sangat panjang yang dijalankan dengan rasa dan laku spiritual. Mitos dan tabu yang diciptakan terkait dengan tenun dimaksudkan sebagai cara menjaga proses dan karya yang dihasilkan. Tenun, melalui ikatannya menciptakan tradisi pelestarian melalui ritual yang dijalankan, namun juga menghasilkan karya seni bernilai ekonomi. Tenun ikat adalah cara untuk melestarikan keanekaragaman hayati, serta mengajarkan nilai dan filosofi kehidupan melalui aneka motif dari generasi ke generasi.

Namun saat ini masyarakat tiga desa tidak lagi memproduksi kain tenunnya dari sumber daya yang dimiliki, melainkan membeli dari luar, bahkan sebagian beralih menggunakan benang dan pewarna sintetis. Kapas dan tanaman pewarna yang sebagian juga berfungsi sebagai penjaga ekosistem tidak lagi ditanam, sehingga jumlahnya semakin berkurang, bahkan menghilang. Jumlah penenun di semakin berkurang salah satunya dikarenakan tidak memiliki sistem tradisi untuk menjaga dan menggunakan tenun. Kain printing motif tenun pabrikan dengan harga ekonomis menjadi pilihan bagi masyarakat, dibanding tenun ikat asli. Masyarakat luas belum memposisikan dan menghargai para perempuan penenun dan karya ciptanya secara tepat.

Yayasan Wisnu bekerjasama dengan Samdhana Institute melakukan penyusunan data dasar, ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas, melalui:

  • Pendokumentasian nilai, filosofi, dan makna tenun ikat di Desa Tenganan, Desa Sidemen Kabupaten Karangasem dan Desa Tanglad di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Riset dan pendokumentasian tenun ikat (gringsing, endek, cepuk): ditujukan untuk mengumpulkan semua informasi terkait ketiga jenis tenun ikat tersebut, terutama yang terkait dengan nilai, filosofi, dan maknanya, serta fungsi utama setiap jenis tenun ikat.
  • Pendokumentasian video tenun ikat: menerjemahkan nilai, filosofi, dan makna ketiga jenis tenun ikat melalui fungsi utama dan ritual dalam bahasa audiovisual.
  • Publikasi arti dan nilai tenun ikat, pengenalan tenun ikat melalui galeri: bekerja sama dengan Gerai AMAN untuk memperkenalkan tenun ikat dalam arti dan fungsi yang sesungguhnya, bukan sekedar produk yang diperjual-belikan.

Durasi program: Januari 2019 – Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.