Geliat Petani Rumput Laut Nusa Lembongan

Geliat Petani Rumput Laut Nusa Lembongan

Sejak tahun 2015, pertanian rumput laut di Nusa Lembongan sudah mulai hilang. Hilangnya minat masyarakat untuk menanam rumput laut disebabkan karena beberapa faktor, yaitu: cuaca yang kurang mendukung pada tahun – tahun sebelumnya, penyakit ice – ice yang semakin menyerang, minat petani muda untuk bertani sangat kurang karena peluang di pariwisata sangat besar. Maraknya wisatawan yang masuk ke Nusa Lembongan – Nusa Ceningan memicu sebagian besa masyarakat untuk mengambil bagian dalam usaha pariwisata, membangun penginapan, villa, restaurant, jasa wisata laut, dll. Tidak ada yang salah dengan pariwisata yang berkembang di Nusa Penida, hanya sumber daya alam pertanian rumput laut yang telah memberikan penghidupan masyarakatnya sejak tahun 1980-an dan menyekolahkan anak – anak mereka hingga ke perguruan tinggi tidak dilirik lagi. Anak – anak muda maupun para orang tua yang masih produktif memilih pariwisata untuk ekonomi utama mereka, padahal bergantung pada pariwisata sangatlah rentan terhadap isu – isu politik, lingkungan dan sosial. Masih segar dalam ingatan kita masalah sampah yang memenuhi laut – laut di Nusa Penida membuat banyak travel agency dan pemerintah luar negeri yang melarang warganya ke Bali, baca: Berita ini.

Sejak Januari 2018, berkat dukungan pendanaan dari GEF-SGP Indonesia di bawah payung Yayasan Wisnu melaksanakan program pengembangan rumput laut di Desa Lembongan dan Banjar Semaya – Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida. Awalnya hanya terdapat satu demoplot rumput laut yang didukung oleh DKPP Kabupaten Klungkung pada tahun 2017, melalui Yayasan Kalimajari yang mendapat dukungan dari GEF-SGP dan Yayasan Wisnu mengembangkan rumput laut kultur jaringan dan sacul merah untuk di uji coba di Lembongan. Perkembangan rumput laut kultur jaringan dan sacul merah sangat baik di wilayah Lembongan, namun kurang baik untuk di wilayah Banjar Suana. Sejak itu, jenis kultur jaringan dan sacul merah dikembangkan terus menerus di Nusa Lembongan.

“Dari hanya 4 petani yang mengembangkan rumput laut di Nusa Lembongan, saat ini (hingga November 2019) sudah terdapat 64 petani yang telah menanam dan hasilnya sudah mereka rasakan, itupun masih ada petani – petani lainnya termasuk yang dari Nusa Ceningan sedang mempersiapkan patok untuk petak baru”, ujar Pak Suarbawa seorang penggerak pertanian rumput laut di Nusa Lembongan dan Banjar Semaya Nusa Penida. “Saat ini saya melihat senyum bahagi bagi para lansia yang dulunya tidak dapat bekerja disektor pariwisata dan sekarang mereka sudah dapat memberikan bekal untuk cucu-cucunya dari hasil mengikat rumput laut”, ujarnya lagi.

Geliat pertanian rumput laut di Nusa Lembongan – Nusa Ceningan sudah mulai tumbuh lagi dan telah mengirimkan 50 ton rumput laut ke Banjar Semaya – Desa Suana Nusa Penida untuk dikembangkan lebih lanjut secara swadaya (petani membelinya untuk kebutuhan bibit). Dampak kegiatan rumput laut telah membangkitkan ekonomi di Nusa Lembongan dari sektor pertanian dan sebagai pendukung petani yang ada di Banjar Semaya. Kondisi laut di kedua desa ini memang sangat berbeda, berdasarkan hasil penelitian Yayasan Kalimajari, suhu laut di selat Nusa Lembongan dalam satu hari berkisar antara 25,8 – 26, 2 derajat celcius, sedangkan di perairan Banjar Semaya berkisar antara 28,8 – 29.5 derajat celcius. Kondisi ini memang menyebabkan pertumbuhan rumput laut kurang baik di Banjar Semaya, terutama pada musim – musim paceklik bulan April – Desember. Catatan kami, bahwa sebuah program yang menjadi minat masyarakat akan berkembang sangat pesat, kembali pada proses pengkajian kegiatan yang tepat dan sasaran masyarakat tepat pula, sehingga sebuah kegiatan memiliki dampak yang sangat signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.