Tenun Cepuk

Tenun Cepuk

Cepuk dikenal sebagai kain bebali, kain sakral yang digunakan untuk kebutuhan upacara/ritual. Hanya Nusa Penida yang memproduksi tenun ikan pakan ini, terutama karena fungsi utamanya sebagai pelindung dari unsur atau pengaruh jahat. Cepuk juga diyakini sebagai kain magis untuk pengobatan. Itu sebabnya cepuk sebenarnya digunakan sebagai tapih, kain pelapis bagian dalam – justru supaya tidak terlihat langsung dari luar.

Ada dua versi yang berkembang terkait dengan kata cepuk, yaitu:

  1. Berasal dari kata tepuk, bertemu. Setiap motif yang ada dalam cepuk selalu saling bertemu, salah satunya kemudian membentuk geometris belah ketupat. Hal ini terkait dengan kisah Barong dan Rangda, di mana ilmu penengen bertemu dengan ilmu pengiwa yang menciptakan keseimbangan diri dan semesta.
  2. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kayu canging – namun belum diketahui dengan pasti kata yang tepat karena tidak ditemukan kata cepuk dalam bahasa Sansekerta. Duri kayu canging ada yang digunakan untuk membuat gigi Barong, dan salah satu bentuk geometris yang ada dalam cepuk disebut dengan gigi barong. Kayu canging kono menghasilkan warna merah yang identik dengan kain cepuk.

Secara turun-temurun, Tanglad memiliki enam jenis cepuk asli – yang coba dikumpulkan dan digali kembali bersama Kelompok Tenun Alam Mesari (hingga buku ini ditulis masih ada satu jenis yang belum ditemukan):

  1. Mekawis, untuk membungkus tulang dalam upacara pengabenan/kematian
  2. Kecubung, digunakan oleh anak perempuan ketika upacara potong gigi
  3. Lingking paku, digunakan oleh anak laki-laki ketika upacara potong gigi (belum ditemukan contoh kainnya)
  4. Tangi gede, berfungsi sebagai sanan empeg, digunakan pada upacara anak kedua dari tiga bersaudara jika kakak pertama dan adik ketiganya meninggal
  5. Sudamala, warna hitam putih, digunakan ketika melukat (pembersihan diri)
  6. Kurung, bebas digunakan untuk apa saja dan bisa dimodifikasi

Ingin mengetahui lebih jauh tentang tenun cepuk Nusa Penida, songket dari Desa Sidemen dan geringsing dari Desa Tenganan Pegringsingan? silahkan kontak: info@wisnu.or.id untuk mendapatkan bukunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.