Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan di Br. Nyuh Kukuh

Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan di Br. Nyuh Kukuh

Perkembangan pariwisata ke Nusa Penida berkembang pesat sejak tahun 2015, dimana perahu cepat mulai (speed boat) meramaikan transportasi laut menuju/dari Nusa Penida. Sebelumnya untuk bepergian ke Nusa Penida keberangkatan perahu penumpang besar atau biasa disebut masyarakat setempat “jangolan” berkapasitas hingga 50 orang hanya melayani 1 kali penyeberangan menuju/ke Nusa Penida, saat ini hampir setiap setengah jam perahu cepat bisa dimanfaatkan wisatawan/masyarakat local.

Menurut data dari patrol laut UPT Kawasan Konservasi Perairan (data 2017), sedikitnya 3.000 wisatawan per hari mengunjungi Pulau Nusa Penida melalui gerbang pelabuhan masyarakat di Banjar Nyuh Desa Ped. Sejak dilakukannya Festival Nusa Penida pada 2015 membangkitkan keinginan wisatawan untuk mengunjungi pulau karang yang memiliki luas 192,72 km2.

Pariwisata memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu sisi baik yang memberikan dampak ekonomi secara signifikan kepada masyarakat setempat/investor dan sisi buruk terhadap daya dukung pulau yang ditempati 215.852 jiwa ditambah jumlah wisatawan dan orang luar yang bekerja di Nusa Penida.

Berdasarkan hasil survey kualitatif dan wawancara terhadap 22 nara sumber di Banjar Nyuh Kukuh yang dilakukan oleh volunteer Yayasan Wisnu – Abdul Fikri Angga Reksa mahasiswa dari Bonn University and  United Nation University (UNU-EHS):

Sisi baiknya:

  • Terjadinya peningkatan ekonomi warga
  • Penurunan angka pengangguran
  • Pemberdayaan perempuan
  • Banyaknya inisiatif di bidang lingkungan (clean and sustainable business group)

Dampaknya:

  • Banyaknya timbulan sampah plastik/ non-degradable waste
  • Perubahan fungsi lahan yang cepat
  • Hilangnya mata pencaharian petani rumput laut
  • Keterbatasan air
  • Pontoon dan fast boat illegal

Gambar atas: Br. Nyuh tahun 2015, Gambar bawah: Br. Nyuh tahun 2018

Dampak yang serius harus segera dilakukan tindakan untuk mempertahankan daya dukung dan praktek – praktek ekologis dalam skala yang besar mengimbangi desakan pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas. Ketergantungna masyarakat local terhadap Pulau Bali menjadi semakin tinggi, ketergantungan terhadap air minum, makanan, bahan upacara, produk – produk pendukung wisatawan, dll.

Rekomendasi potensi yang perlu dikembangkan di Nusa Penida, yaitu:

  • Implementasi program teknologi pengelolaan sampah terpadu skala banjar, apabila tiap orang menghasilkan 1 kg sampah per hari, maka akan ada sekitar 219 ton sampah per hari di pulau ini atau setara dengan jumlah 36 dump truk sedang
  • Edukasi dan sistem pengelolaan sampah (termasuk awig-awig)
  • Pembangkit listrik tenaga terbarukan seperti: tenaga surya, biogas, arus laut maupun angin, karena tenaga listrik dari bahan bakar solar saat ini menghasilkan emisi 74,07 ton/TJ energi atau setara dengan 0,267 kgCO2/kWh
  • Memperkuat gerakan anak muda peduli lingkungan
  • Memperbanyak penerapan eco-tourism area yang peduli dengan social ekonomi lingkungan setempat
  • Pembatasan jumlah wisatawan di area konservasi perairan
  • Penegakan hukum (law enforcement) lebih ketat

Leave a Reply

Your email address will not be published.